SEJARAH KERAJAAN SANGGAU

Sanggau, kota sanggau, sanggau kalimantan barat, sanggau Kapuas, sanggau ledo, peta sanggau, peta kabupaten sanggau, polres sanggau, hotel di sanggau, bkd sanggau, www.sanggau.go.id , kerusuhan sanggau ledo, sejarah sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan di sanggau, sejarah kerajaan sanggau Kalimantan barat, sejarah kerajaan sanggau Pontianak Kalimantan barat, objek wisata Kalimantan, daerah tujuan wisata di Indonesia, daftar tempat wisata, lokasi pariwisata, wisata di Kalimantan, tempat wisata Kalimantan, objek wisata di Kalimantan, tempat berlibur, pariwisata alam, tempat wisata air, tempat wisata alam, tempat-tempat wisata, tempat wisata di Kalimantan, tempat liburan, objek pariwisata, wisata Kalimantan, sanggau kalbar.

1. Sejarah
Sanggau adalah sebuah nama sebuah kabupaten di Kalimantan Barat yang terletak tidak begitu jauh dari kota pontianak. Sebelum berubah menjadi kabupaten, di wilayah Sanggau berdiri satu kerajaan Melayu yang sudah ada sejak abad ke-4 Masehi. Penyebutan "Sanggau" sendiri berasal dari nama tanaman yang tumbuh ditepi sungai daerah tempat berdirinya kerajaan itu, yakni sungai sekayam. Dalam buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat Karya J.U Lontan disebutkan bahwa Sungai Sekayam merupakan tempat merapatnya rombongan yang dipimpin Dara Nante, seorang perempuan ningrat dari Kerajaan Sukadana, Ketapang, saat mencari suaminya yang bernama Babai Cinga (J.U. Lontaan, 1975:70). Namun ada juga pendapat yang meyakinini bahwa nama "Sanggau" diambil dari nama Suku Dayak Sanggau, sebuah klan Suku Dayak yang menjadi suku asal Baba Cinga (Primasolo dalam www.kr.co.id).
a. Masa Awal Kerajaan Sanggau
Dalam perjalanan menyusuri Sungai Sekayam, rombongan Dara Nante bertemu dnegan orang-orang dari Suku Dayak Mualang tersebut sedang berusaha menemukan sebuah tempat yang bernama Tampun Juah. Akhirnya, kedua rombongan itu bergabung dan bersama-sama mengarungi Sungai Sekayam. Ditengah perjalanan, ternyata di aliran Sungai Sekayam terdapat dua cabang anak sungai. Rombongan besar ini kemudian memilih salah satu cabang Sungai Sekayam yang dikenal dengan nama Sungai Entabai. Ternyata pilihan itu tepat karena rombongan Dara Nante dan Suku Dayak Mualang berhasil menemukan Tampun Juah yang terletak di hulu Sungai Entabai. Berkah bagi Dara Nante karena di tempat itulah ia menemukan Babai Cinga.
Tampun Juah merupakan tempat persinggahan dan salah satu pusat berkumpulnya suku-suku bangsa Dayak dari berbagai klan yang berimigrasi dari banyak daerah asal. Setelah beberapa saat menetap di Tampun Juah, Rombongan Patih Bardat dan Patih Bangii memutuskan untuk meneruskan perjalanannya, menuju hulu Sungai Kapuas. Kelak rombongan Singa Patih Bardat menurunkan Suku Kematu, Benawas, Sekadau, dan Melawang. Sedangkan Rombongan Patih Bangi adalah leluhur Suku Dayak Melawang yang menurunkan raja-raja sekadau (www.pontianakonline.com).
Dara Nante tidak menetap selamanya di Tampun Juah karena Dara Nante memutuskan untuk pulang ke Sukadana dan kembali menyusuri Sungai Sekayam. Namun, di tengah perjalanan, tepatnya disebuah tempat yang dikenal dengan nama Labai Lawai,  rombongan Dara Nante menghentikan perjalanannya dan membangun suatu kerajaan kecil di tempat itu, yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Sanggau. Rombongan Dara Nante sendiri sebelumnya pernah tinggal di Labai Lawai dalam perjalan pertama mereka ketika mencari Babai Cinga.
Hingga kini di Labai Lawai masih dapat ditemukan situs sejarah peninggalan Kerajaan Sanggau, yakni berupa batu-batu keramat yang dinamakan Batu Dara Nante dan Batu Babai Cinga. Batu-batu itu menancap di tanah dan ditutup kain kuning berbentuk segi empat dengan ketinggian sekitar 1 meter. Hingga saat ini, warga setempat masih melakukan ritual adat yang rutin diadakan setiap tahun tersebut dengan memberikan sesaji untuk batu-batu yang disucikan tersebut. (www.harianberkat.com).
Keturunan Kerajaan Sanggau di masa sekarang meyakini bahwa kerjaaan leluhur mereka itu didirikan pertama kali pada tanggal 7 april 1310 M, yaitu ketika Dara Nante dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Sanggau yang pertama. Untuk itu maka pada tanggal 26 juli 2009, perwakilan tiga etnis yang terdapat di Sanggau yaitu Melayu, Dayak dan Tionghoa, menyepakati bahwa setiap tanggal 7 April diperingati sebagai hari jadi Kota Sanggau, meskipun hal ini sebatas pendeklarasian dan belum sebagai ketetapan pemerintah. Sedangkan upaya mendapatkan peresmian dari pemerintah masih diperjuangkan sampai saat in (www.borneotribun.com).
Kerajaan Sanggau mengalami masa-masa sulit ketika Dara Nante menitipkan pucuk pimpinan Kerajaan Sanggau kepada orang kepercayaannya bernama Dakkudak. Namun, Dakkudak ternyata tidak mampu menjalnkan amanat Dara Nante dengan semestinya. Berbagai perkara tidak dapat diselesaikannya dengan baik. Akibat kondisi kian terjepit dan tidak menguntungkan, Dakkudak kemudian memilih angkat kaki dari Kerajaan Sanggau dan pergi emnuju ke daerah Semboja dan Segarong (Lontan, 1975:171).
Kepergian Dakkudak membuat roda pemerintahan Kerajaan sanggau tersendat. Kelajutan Riwayat Kerajaan sanggau setelah era pemerintahan Dakkudak diketahui dengan pasti, namun, pada tahun 1485 M, seorang perempuan yang masih memiliki garis keturunan dengan Dara Nante, bernama Dayang Mas Ratna (1485-1528 M), dinobatkan sebagai penguasa Sanggau. Kebijakan pertama Dayang Mas Ratna setelah bertahta adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Labai Lawai ke Mengkiang, sebuah tempat yang terletak di muara Sungai Sekayam. Dalam menjalankan pemerintahannya, Dayang Mas Ratna dibantu oleh suaminya yang bernama Buruk Kamal atau Abdurrahman, keturunan Kyai Kerang dari Banten (Lontaan, 1975:172). Meski Nurul Kamal diduga kuat adalah seorang muslim, namun belum diketahui apakah Kerajaan Sanggau sejak masa pemerintahan Dayang Mas Ratna juga telah bercorak Islam.
Pemimpin Kerajaan Sanggau pengganti Dayang Mas Ratna masih seorang perempuan, bernama Dayang Puasa yang kemudian bergelar Nyai Sura (1528-1569 M). Dalam menjalankan pemerintahan Kerajaan Sanggau, Dayang Puasa dibantu oleh suaminya yang bernama Abang Awal, seorang keturunan penguasa Kerajaan Embau di Kapuas Hulu. Selain itu, masih pada era pemerintahan Nyai sura, Kerajaan Sanggau telah menjalin hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Sintang (Syahzaman & Hasanudin, 2003:32).
Selanjutnya, Kerajaan Sanggau dipimpin oleh raja bernama Abang Gani dengan gelar Pangeran Adipati Kusumanegara Gani (1569-1614 M). Pada era, Kerajaan Sanggau terlibat perkara dengan kerajaan Matan (Tanjungpura). Kasus ini bermula dari perkawinan puteri Sanggau, bernama Dayang Seri Gemala, dengan seorang penguasa dari Kerajaan Matan. Namun, beberapa tahun setelah itu berbagai perundingan antara Kerajaan Matan dan Kerajaan Sanggau, akhirnya Dayang Seri Gemala berhasil dipulangkan kembali ke Sanggau secara damai. Warga Kerajaan Sanggau menyambut kepulangan sang puteri dengan suka-cita (Lontan, 1975:172)
Setelah Raja Abang Gani wafat pada tahun 1614 M, tampuk pemerintahan Kerajaan Sanggau diserahkan kepada putra mahkota yang bernama Abang Basun dengan gelar Pengeran Mangkubumi Pakunegara (1614-1658 M). Pemerintahan Pangeran Mangkubumi Pakunegara mendapat dukungan penuh dari saudaranya, bernama Abang Abon dengan gelar Pangeran Sumabaya, dan sepupunya yang bernama Abang Guneng (A. Roffi Faturrahman, et.al., tt:97).

Sanggau, kota sanggau, sanggau kalimantan barat, sanggau Kapuas, sanggau ledo, peta sanggau, peta kabupaten sanggau, polres sanggau, hotel di sanggau, bkd sanggau, www.sanggau.go.id , kerusuhan sanggau ledo, sejarah sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan di sanggau, sejarah kerajaan sanggau Kalimantan barat, sejarah kerajaan sanggau Pontianak Kalimantan barat, objek wisata Kalimantan, daerah tujuan wisata di Indonesia, daftar tempat wisata, lokasi pariwisata, wisata di Kalimantan, tempat wisata Kalimantan, objek wisata di Kalimantan, tempat berlibur, pariwisata alam, tempat wisata air, tempat wisata alam, tempat-tempat wisata, tempat wisata di Kalimantan, tempat liburan, objek pariwisata, wisata Kalimantan, sanggau kalbar.
Istana Beringin Kesultanan Sanggau

b. Eksistensi Kesultanan Sanggau
Penerus pemerintahan Kerajaan Sanggau setelah Pangeran Mangkubumi Pakunegara adalah Abang Bungsu (Uju) yang bertahta sejak tahun 1658 hingga 1690 M. BAbang Bungsu adalah anak lelaki Pangeran Mangkubumi Pakunegara dari istri ketiga yang berasal dari Tanah Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Pengangkatan Abang menjadi raja dilakukan karena kedua istri Pangeran Mangkubumi yang lain tidak bisa memberikan anak laki-laki. Abang Bungsu dinobatkan sebagai Raja Sanggau dengan gelar Sultan Mohammad Jamaludin Kusumanegara. Menilik nama dan penyebutan gelar yang disematkan kepada Abang Bungsu, dapat dipastikan bahwa pemerintahan Sanggau pada masa ini telah bercorak Islam. Dengan demikian, nama Kerajaan Sanggau pun berubah menjadi Kesultanan Sanggau, sesuai dengan pemerintahan khas Islam.
Sultan Mohammad Jamaluddin memindahkan pusat pemerintahan dari Mengkiang ke tempat yang sekarang menjadi Kota Sanggau. Akan tetapi, masih banyak keturunan Abang Bungsu yang tetap bertahan di Mengkiang. Konon, Abang Bungsu atau Sultan Mohammad Jamaluddin pernah berkunjung ke Kesultanan cirebon di Jawa Barat. Sultan Mohammad Jamaluddin membawa pulang oleh-oleh berupa tiga buah meriam yang diberi nama Bujang Juling, Dara Kuning, Dara Hijau (Lontaan, 1975:173)
Pada tahun 1690 M Sultan Mohammad Jamaluddin mangkat. Tahta Kerajaan Sanggau dijabat oleh anak sulungnya, bernama Abang Kamarudin atau Abang Saka bergelar Sultan Akhmad Kamarudin (1690-1722 M). Dalam mengelola pemerintahan, Sultan Akhmad dibantu oleh adiknya yang bernama Panembahan Ratu Surya Negara. Kedua putera almarhum Sultan Mohammad Jamaluddin ini saling bekerjasama untuk memajukan Kesultanan Sanggau. Sultan Akhmad Kamaruddin berperan sebagai kepala pemerintahan dan menyandang gelar Gusti, sedangkan Panembahan Ratu Surya Negara, yang memperoleh gelar Ade, diangkat sebagai penasehat kesultanan sekaligus membawahi daerah perairan atau kawasan pesisir laut (Faturrahman, et.al., tt:98).
Pada suatu hari, Sultan Akhmad Kamaruddin menerita sakit. Ketika Sultan Akhmad Kamaruddin dalam kondisi lemah karena sakitnya itu, Panembahan Ratu Surya Negara berkali-kali datang menghadap sang kakak agar tahta pemerintahan Kesultanan Sanggau diserahkan kepadanya. Awalnya, permintaan itu tidak ditanggapi secara serius oleh Sultan Akhmad Kamaruddin, namun karena Panembahan Ratu Surya Negara terus-menerus mendesak, maka akhirnya Sultan menyerahkan tahta kepada sang adik. Pada tahun 1722 M, Panembahan Ratu Surya Negara dinobatkan menjadi Sultan Sanggau dan bergelar Sultan Zainuddin (1722-1741 M). Selain itu, karena sebelum dinobatkan Panembahan Ratu Surya Negara selalu bertanya kepada kakaknya kapan ia bisa naik tahta menjadi raja, maka ia mendapatkan julukan Abang Sebilang Hari (Lontaan, 1975:174).
Pasca wafatnya Sultan Zainuddin, terjadi sedikit perubahan dalam aturan suksesi Kesultanan Sanggau. Mulai saat itu, pucuk kepemimpinan Kesultanan Sanggau dijabat secara bergantian oleh keturunan Sultan Akhmad Kamaruddin dan Sultan Zainuddin. Selain itu, kedua belah pihak juga menempati istana yang berbeda, yakni Istana Beringin (daerah darat) untuk pihak keturunan Sultan Akhmad Kamaruddin dan Istana Kuta (daerah laut) untuk pihak keturunan Sultan Zainuddin.
Pengganti Sultan Zainuddin (dari Istana Kuta di daerah laut) sebagai pemimpin Kesultanan Sanggau adalah Abang Tabrani dengan gelar Pengeran Ratu Surya Negara (1741-1762 M) dari daerah darat dan bertahta di Istana Beringin. Pada masa ini, terjalin hubungan akrab antara Kesultanan Sanggau dengan Kesultanan Kadriah Pontianak. Hal ini dibuktikan dengan pemberian sebuah meriam yang dinamakan "Gentar Alam" kepada Kesultanan Sanggau dari Sultan Kadriah Pontianak. Sebagai hadiah balasan, Pangeran Ratu Surya Negara mengirimkan balok-balok kayu belian yang kini masih tersimpan di Istana Kesultanan Kadriah Pontianak (Faturrahman, et.al., tt:98).
Hubungan antara Kesultanan Sanggau dan Kesultanan Kadriah Pontianak mulai retak tahun 1778 M. Penguasa Kesultanan Kadriah Pontianak saat itu berambisi melakukan ekspansi untuk memperluas wilayahnya (Hasanuddin. 2000:17). Kesultanan Kadriah Pontianak berhasil menduduki wilayah Kesultanan Sanggau sekaligus menguasai jalur perdaganggan Sungai Kapuas. Sebagai legitimasi penguasaan atas wilayah Sanggau, Sultan Kadriah Pontianak mendirikan benteng yang dinamakan Jambu Basrah di Pulau Simpang Labi yang merupakan pulai milik Kerajaan Sanggau (Ansar Rahman, 2000:81).
Setelah Pangeran Ratu Surya Negara wafat pada tahun 1762 M, tahta Kesultanan Sanggau kembali beralih ke Istana Kuta yang dijabat oleh Panembahan Mohammad Thahir I Surya Negara (1762-1785 M). Selanjutnya, Kesultanan Sanggau dipimpin oleh Pangeran Usman Paku Negara, menikah dengan Raja Sekadau (Lontaan, 1975:174). Di sisi lain, pada tahun 1812, terjadi lagi perselisihan antara Kesultanan Sanggau dengan Kesultanan Kadriah Pontianak. Kali ini, Kesultanan Sanggau dapat menghalau serangan dari Kesultanan Kadriah Pontianak (Lontaan, 1975:174).
Setelah Panembahan Usman Paku Negara, tampuk kekuasaan Kerajaan Sanggau beralih kepada Panembahan Mohammad Ali Surya Negara (1812-1823 M) dari Istana Kuta. Era pemerintahan Panembahan Mohammad Ali Mangku Negara berakhir pada tahun 1823 dan diantikan oleh wakil dari Istana Beringin, yakni Sultan Ayub Paku Negara, yang memimpin Kerajaan Sanggau sampai tahun 1828. Pada masa pemerintahannya, Sultan Ayub menggas pembangunan Masjid Jami' Syuhada yang diperkirakan berdiri pada tahun 1826. Selain itu, menurut laporan yang ditulis Bassilius dalam surat kabar Pontianak Pos edisi 28 September 2004 dan terangkai dalam tulisan berseri dengan judul "Melihat Perkembangan Sanggau dari Masa ke Masa", disebutkan bahwa Sultan Ayub memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Sanggau ke Kampung Kantuk (Basillius, dalam Pontianak Pos, 28 September 2004).
Saudara Sultan Ayub, bernama Ade Akhmad, naik tahta menjadi Sultan Sanggau dengan gelar Panembahan Mohammad Kusuma Negara. Penobatan Ade Akhmad yang notabene masih berasal dari pihak Istana Beringin itu disebabkan karena calon Sultan dari Istana Kuta masih kecil dan belum cukup umur untuk memimpin Kesultanan Sanggau. Setelah Ade Akhmad atau Panembahan Mohammad Kusuma Negara wafat pada tahun 1860, giliran wakil dari keluarga Istana Kuta yang naik tahta, yakni Panembahan Mohammad Thahir II (1860-1876). Panembahan Mohammad Thahir II pernah merumuskan batas-batas wilayah hukum antara Kesultanan Sanggau dengan Kesultanan Brunei. Namun, tanda batas yang telah dibuat Panembahan Mohammad Thahir II tersebut hingga kini belum dapat dilacak dan ditemukan (Lontaan, 1975:175).
Pada era pemerintahan Panembahan Mohammad Thahir II, wilayah Kesultan Sanggau didatangi bangsa Belanda. Pada awalnya, kedatangan Belanda disambut baik oleh rakyat dan keluarga Kesultanan Sanggau. Belanda memanfaatkan sambutan baik ini dengan memohon unutk diizinkan menetap di Sanggau. Permintaan Belanda ini dikabulkan oleh Penembahan Mohammad Thahir II. Dengan demikian, Belanda mulai menanamkan pengaruhnya di wilayah Kesultanan Sanggau.
Panembahan Mohammad Thahir II wafat pada tanggal 23 Maret 1876,. Kedudukannya sebagai Sultan Sanggau digantikan oleh Ade Sulaiman (dari Istana Beringin) yang bergelar Panembahan Haji Sulaiman Paku Negara (1876-1908). Sejak saat inilah roda pemerintahan di Kesultanan Sanggau mulai dipengaruhi oleh Hegemoni Belanda, termasuk dalam hal mengangkat, memecat, dan menggantikan kedudukan seorang sultan, serta sebagai perjanjian yang dilakukan antara pihak Keusltanan Sanggau dengan Belanda.
Pada tahun 1877, misalnya, dilakukan penandatanganan surat kontrak mengenai penyewaan tanah Kesultanan Sanggau oleh Belanda, yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.W.van Lansberge (1875-1881) serta pihak Kesultanan Sanggau yang diwakili oleh Sultan Sanggau, Panembahan Muhammad Saleh (Mangkubumi), Pangeran Ratu Mangku Negara (Raja di Semerangkai), Pangeran Mas Paduka Putera (Raja di Balai Karangan), dan Pangeran Adi Ningrat selaku (Menteri Kesultanan Sanggau). Dalam perjanjian itu, ditetapkan bahwa Tanjung Sekayam disewakan kepada Belanda (Basilius, dalam Pontianak Pos, 28 September 2004).
Setelah Panembahan Haji Sulaiman Paku Negara Meninggal dunia pada tahun 1908, tampuk pemerintahan Kesultanan Sanggau diteruskan oleh Panembahan Gusti Mohammad Ali Surya Negara (dari Istana Kuta) yang berkuasa sampai tahun 1915 (Faturrahman, et.al., tt:98). Pemangku tahta Kesultanan Sanggau berikutnya adalah Pangeran Gusti Mohammad Said Paku Negara (dari Istana Beringin). Era Pangeran Gusti Mohammad Said Paku Negara berakhir pada tahun 1921 stelah beliau dipensiunkan oleh Belanda. Belanda yang  berhasil masuk ke dalam setiap kebijakan pemerintahan Kesultanan Sanggau kemudian menobatkan Panembahan Thahir III Surya Negara (dari Istana Kuta) menjadi pemimpin Kesultan Sanggau yang selanjutnya. Kekuasaan Panembahan Thahir IIISurya Negara bertahan hingga tahun 1941 dan digantikan oleh Gusti Mohammad Arif Paku Negara dari pihak keluarga Istana Beringin.
Pada tahun 1942, Belanda menyerah kepada Jepang. Sejak itulah masa pendudukan Jepang di Indonesia, termasuk di wilayah Sanggau, dimulai. Era kekuasaan Gusti Mohammad Arif Paku Negara hanya bertahan selama satu tahun karena pada tahun 1942 beliau ditangkap dan kemudian dibunuh oleh tentara Jepang, Ade Marhaban Saleh diangkat sebagai pemangku adat Kesultanan Sanggau (Faturrahman, et.al., tt:98). Ade Marhaban Saleh sejatinya juga berasal dari pihak Istana Beringin. Namun, Kondisi ini menjadi hal yang bisa dimaklumi karena adanya tekanan dari pihak pemerintahan militer Jepang. Ade Marhaban Saleh digantikan oleh Panembahan Gusti Ali Akbar, masih dari keluarga Istana Beringin, pada tahun 1944. Panembahan Gusti Ali Akbar mengemban mandat sebagi pemangku adat Kesultanan Sanggau pada saat-saat terakhir pendudukan Jepang di Indonesia.
Tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada pasukan Sekutu. Tiga hari kemudian, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Namun, pada bulan September 1945, Belanda yang menjadi bagian dari pemenang Perang Dunia ke-2, datang ke wilayah Indonesia dan bermaksud berkuasa lagi, termasuk berkeinginan untuk kembali menanamkan pengaruhnya di Kesultanan Sanggau. Oleh karena itu, Belanda kemudian mengirim utusannya yang bernama Riekerk untuk menempati posisi sebagai Asisten Residen di wilayah Sanggau. Riekerk, yang datang ke Sanggau bersama pasukan militer bersenjata lengkap, kemudian menurunkan Panembahan Gusti Ali Akbar dari singgasana kesultanan Sanggau dan mengangkat Panembahan Gusti Mohammad Taufik Surya Negara sebagi penggantinnya (Lontaan, 1975:177). Panembahan Gusti Mohammad Taufik Surya Negara berasal dari pihak keluarga Istana Kuta.
Tahta Panembahan Panembahan Gusti Mohammad Taufik Surya Negara bertahan hingga sanggau diubah menjadi daerah swapraja. dengan demikian, maka Panembahan Gusti Mohammad Taufik Surya Negara merupakan Sultan Sanggau yang terakhir (Basilius, dama Pontianak Pos, 3 Oktober 20024). Pada tanggal 2 Mei 1960 dilakukan serah terima pemerintahan Swapraja sanggau kepada M. Th. Djaman selaku Kepada Daerah Swantara Tingkat II Sanggau. Sejak saat inilah riwayat Kesultanan sanggau mengalami kemandegan seiring perubahan statusnya menjadi ibu kota Kabupaten Sanggau di Provinsi Kalimantan Barat.
Setelah mati suri selama kurang lebih 49 tahun lamanya, akhirnya pada tanggal 26 juli 2009, dimulailah kebangkitan Kesultanan sanggau, meski tidak lagi memiliki kewenangan dalam hal politik dan bersifat adat semata. Pada tanggal tersebut, Pangeran Ratu H. Gusti Arman Surya Negara dinobatkan sebagai Sultan Sanggau. Acara agung itu dihadiri beberapa tokoh, seperti Sultan Iskandar Machmud Badarudin dari Kesultanan Palembang Darusalam, Pangeran Rati Gusti Suryansyah dari Istana Ismayana, dan Bupati Sanggau Ir. H. Setiman H. Sudin (www.equator-new.com).


Sanggau, kota sanggau, sanggau kalimantan barat, sanggau Kapuas, sanggau ledo, peta sanggau, peta kabupaten sanggau, polres sanggau, hotel di sanggau, bkd sanggau, www.sanggau.go.id , kerusuhan sanggau ledo, sejarah sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan di sanggau, sejarah kerajaan sanggau Kalimantan barat, sejarah kerajaan sanggau Pontianak Kalimantan barat, objek wisata Kalimantan, daerah tujuan wisata di Indonesia, daftar tempat wisata, lokasi pariwisata, wisata di Kalimantan, tempat wisata Kalimantan, objek wisata di Kalimantan, tempat berlibur, pariwisata alam, tempat wisata air, tempat wisata alam, tempat-tempat wisata, tempat wisata di Kalimantan, tempat liburan, objek pariwisata, wisata Kalimantan, sanggau kalbar.
Istana Kuta Kesultanan Sanggau
2. Silsilah
Urutan para pemegang tampuk pemerintahan di Kerajaan/Kesultanan Sanggau yang berhasil ditemukan dari buku karya J.U.Lontaan yang berjudul Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat" dan tulisan bertajuk Kesultanan Sanggau" Karya A. Roffi Faturrahman, et.al. (tt) yang terhimpun dalam buku Istana-istana di Kalimantan Barat adalah sebagai berikut :
•    Dara Nante (1310 M)
•    Dakkudak
•    Dayang Mas Ratna (1485-1528 M)
•    Dayang Puasa atau Nyai sura (1528-1569 M).
•    Abang Gani bergelar Pangeran Adipati Kusumanegara Gani (1569-1614 M).
•    Abang Basun bergelar Pangeran Mangkubumi Pakunegara (1614-1658) M).
•    Abang Bungsu (Uju) bergelar Sultan Mohammad Jamaluddin Kusumanegara (1658-1690 M).
•    Abang Kamaruddin bergelar Sultan Akhmad Kamaruddin (1690-1722 M).
•    Panembahan Ratu Surya Negara bergelar Sultan Zainuddin (1722-1741 M).
•    Abang Tabrani bergelar Pangeran Ratu Surya Negara (1741-1762 M).
•    Panembahan Mohammad Thahir I Surya Negara ( 1762-1785 M).
•    Pangeran Usman bergelar Panembahan Usman Paku Negara (1785-1812 M).
•    Panembahan Mohammad Ali Surya Negara (1812-1823).
•    Sultan Ayub Paku Negara (1812-1828).
•    Panembahan Mohammad Kusuma Negara (1828-1860).
•    Panembahan Thahir II (1860-1876).
•    Panembahan Haji Sulaiman Paku Negara (1876-1908).
•    Panembahan Gusti Mohammad Ali Surya Negara (1908-1915).
•    Pangeran Gusti Mohammad said Paku Negara ( 1915-1921).
•    Panembahan Thahir Surya Negara (1921-1941).
•    Gusti Mohammad Arif (1941-1942).
•    Ade Marhaban Saleh (1942-1944).
•    Penembahan Gusti Ali Akbar (1944-1945).
•    Panembahan Gusti Mohammad Taufik Surya Negara (1945)
•    Pangeran ratu H. Gusti Arman Surya Negara (2009)
Sanggau, kota sanggau, sanggau kalimantan barat, sanggau Kapuas, sanggau ledo, peta sanggau, peta kabupaten sanggau, polres sanggau, hotel di sanggau, bkd sanggau, www.sanggau.go.id , kerusuhan sanggau ledo, sejarah sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan di sanggau, sejarah kerajaan sanggau Kalimantan barat, sejarah kerajaan sanggau Pontianak Kalimantan barat, objek wisata Kalimantan, daerah tujuan wisata di Indonesia, daftar tempat wisata, lokasi pariwisata, wisata di Kalimantan, tempat wisata Kalimantan, objek wisata di Kalimantan, tempat berlibur, pariwisata alam, tempat wisata air, tempat wisata alam, tempat-tempat wisata, tempat wisata di Kalimantan, tempat liburan, objek pariwisata, wisata Kalimantan, sanggau kalbar.
Silsilah Kesultanan Sanggau Hingga Tahun 1945
3. Sistem Pemerintahan
Sistem pemerintahan Kerajaan Sanggau sejak masa awal atau ketika didirikan pertama kali oleh Dara Nante pada tahun 1310 masih berdasarkan aturan hukum-hukum adat setempat. Pejabat sementara pengganti Dara Nante, yakni Dakkudak, ternyata tidak dapat mengelola pemerintahan Kerajaan Sanggau dengan baik. Dakkudak tidak mampu menjalankan undang-undang adat dengan semestinya. Ketidakmampuan ini membuat Dakkudak memilih pergi meninggalkan Kerajaan Sanggau.
Pengganti Dakkudak adalah keturunan Dara Nante yang bernama Dayang Mas Ratna (1485-1528 M). Sejak masa inilah tampuk pemerintahan Kerajaan Sanggau mulai diampu orang-orang yang mempunyai tali keturunan berdasarkan garis darah. dalam menjalankan pemerintahan, Dayang Mas Ratna dibantu oleh suaminya yang bernama Nurul Kamal. Hal yang sama juga berlaku pada masa pemerintahan Dayang Puasa atau Nyai Tua yang berperan meneruskan kekuasaan dayang Mas Ratna. Pengelola pemerintahan Kerajaan Sanggau pada rezim Dayang Puasa juga dibantu oleh suami yang bernama Abang Awal (Faturrahman, et.al., tt:97).
Sejak masa kepemimpinan dayang Puasa berakhir, Kerajaan Sanggau selalu dipimpin oleh kaum pria dari waktu ke waktu. Dalam melaksanakan pemerintahannya, biasanya Raja atai Sultan Sanggau dibantu oleh penasehat kerajaan/kesultanan yang diberi gelar Ade. Bahakan, sejumlah orang yang pernah menjabat sebagai Ade, sempat naik tahta menjadi penguasa Sanggau, beberapa di antaranya adalah Panemabahan Ratu Surya Negara (1722-1741 M) yang mengambil-alih tahta Sultan Akhmad Kamaruddin (1690-1722 M) dan Panembahan Mohammad Ali Surya Negara (1812-1823) yang menggantikan Sultan Ayub Paku Negara (1812-1828). Para pemegang jabatan Ade pada umunya adalah saudara kandung dari pemimpin Kesultanan Sanggau yang tengah berkuasa.
Setelah era pemerintahan Panembahan Ratu Surya Negara yang bergelar Sultan Zainuddin (1722-1741 M), terjadi perubahan dalam aturan suksesi Kesultanan Sanggau. Mulai saat itu, pucuk kepemimpinan Kesultanan Sanggau dijabat secara bergantian oleh keturunan Sultan Akhmad Kamaruddin dan Sultan Zainuddin, keduanya adalah putera dari Sultan Sanggau sebelumnya, yakni Sultan Mohammad Jamaluddin Kusumangeara (1658-1690 M). selain itu, kedua belah pihak juga menempati istana berbeda, yakni Istana Beringin (daerah darat) untuk pihak keturunan Sultan Akhmad Kamaruddin dan Istana Kuta (daerah laut) untuk pihak keturunan Sultan Zainuddin. Suksesi kepemimpinan yang bergantian seperti ini terus berlangsung hingga Kesultanan Sanggau melebur dan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan sedikit pengecualian yang disebabkan hal-hal tertentu, misalnya calon Sultan masih berusia belum dewasa atau kondisi politik saat itu.
Sisitem pemerintahan Keusltanan Sanggau mempunyai undang-undang yang didasarkan atas hukum adat dan hukum Islam. Akan tetapi, ketika Belanda mulai menanamkan pemngeruhnya di Kesultanan Sanggau, segala kebijakan yang dirumuskan Kesultanan Sanggau harus mendapat persetujuan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Selain itu, Kesultanan Sanggau juga memiliki lembaga Mahkamah Syariah atau Raad Agama. Lembaga ini dipimpin oleh Haji Muhammad Yusuf bergelar Igama (Basilius, dalam Pontianak Pos, 1 Oktober 2004). Pembentukan Raad Agama ini sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk turut campur dalam persoalan-persoalan agama (Islam) yang sebelumnya menjadi wewenang penuh Sultan Sanggau.
Pada tanggal 30 Oktober 1932, dilakukan penyempurnaan hukum adat yang berlaku Kesultanan Sanggau. Hukum adat yang sebelumnya berjumlah 34 pasal ditambah menjadi 70 pasal. Dalam hukum baru tersebut dikatakan bahwa segala urusan agama tidak hanya diputuskan oleh Sultan Sanggau. tetapi juga harus dilakukan oleh Raad Agama. Urusan-urusan yang ditangani oleh Raad Agama antara lain :nikah, talak, rujuk, waris, wasiat, penetapan bulan Ramadhan, fardlu kifayah, pengankatan imam dan khatib, dan bilal (muadzin) masjid (Basilius, dalam Pontianak Pos, 1 oktober 2004).
Belanda memang berupaya mengendalikan sistem pemerintahan Kesultanan Sanggau. Hal yang paling jelas adalah ketika terjadi suksesi kepemimpinan Kesultanan dimana Belanda sangat berpengaruh dalam hal ini. Belanda, misalnya menobatkan Panembahan Gusti Mohammad Ali Surya Negara (1808-1915(, sebagai pengganti Panembahan Haji Sulaiman Paku Negara (1876-1908).Orang-orang yang menolak oengangkatan itu, salah satunya adalah Pangeran Dipati Ibnu, dibuang ke Jawa oleh Belanda. Campur-tangan Belanda dalam proses pengakatan pemangku adat Sanggau terus terjadi sampai tahun 1941.
Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda terhadap Rapublik Indonesia pada tahun 1949, maka kedudukan Kesultanan Sanggau secara politik sudah tidak berlaku lagi karena Sanggau bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berubah bentuk menjadi swapraja. Sejak tanggal 2 Mei 1960, riwayat Kesultanan Sanggau berubah status menjadi ibu kota Kabupaten Sanggau yang termasuk ke dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Lontaan, 1975:177). Setelah mati suri selama kurang lebih 49 tahun selamanya, akhirnya pada tanggal 26 juli 2009, dimulailah kebangkitan Kesultanan Sanggau, meski tidak memiliki kewenangan dalam hal politik dan bersifat adat semata. Pada tanggal tersebut, Pangeran Ratu H. Gusti Aman Surya Negara dinobatkan sebagai sultan Sanggau (www.equator-news.com).
Sanggau, kota sanggau, sanggau kalimantan barat, sanggau Kapuas, sanggau ledo, peta sanggau, peta kabupaten sanggau, polres sanggau, hotel di sanggau, bkd sanggau, www.sanggau.go.id , kerusuhan sanggau ledo, sejarah sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan sanggau, sejarah kerajaan di sanggau, sejarah kerajaan sanggau Kalimantan barat, sejarah kerajaan sanggau Pontianak Kalimantan barat, objek wisata Kalimantan, daerah tujuan wisata di Indonesia, daftar tempat wisata, lokasi pariwisata, wisata di Kalimantan, tempat wisata Kalimantan, objek wisata di Kalimantan, tempat berlibur, pariwisata alam, tempat wisata air, tempat wisata alam, tempat-tempat wisata, tempat wisata di Kalimantan, tempat liburan, objek pariwisata, wisata Kalimantan, sanggau kalbar.
Penobatan Pangeran Ratu H. Gusti Arman Surya Negara

4. Wilayah Kekuasaan
Sejak pertama kali didirikan oleh Dara Nante pada tahun 1310, Kerajaan/Kesultanan Sanggau telah mengalami perpindahan pusat pemerintahan selama beberapa kali dengan masing-masing daerah kekuasaannya. Pertama kali didirikan, pusat Kerajaan Sanggau berada di Labai Lawai di dekat Sungai Sekayam. Kemudian, pada era pemerintahan Dayang Mas Ratna (1485-1528 M), keturunan Dara Nante, pusat pemerintahan Kerajaan Sanggau dipindahkan dari Labai Lawai ke Mengkiang di muara Sungai sekayam. Pemerintahan Kerajaan/kesultanan Sanggau di Mengkiang bertahan hingga masa kekuasaan Abang Bungsu yang bergelar Sultan Mohammad Jamaluddin Kusumanegara yang bertahta dari tahun 1658-1690 M. Sultan Mohammad Jamaluddin Kusumanegara yang bertahta dari tahun 1658 hingga 1690 M. Sultan Mohammad Jamaluddin Kusumanegara memindahkan pusat pemerintahan dari Mengkiang ke tempat yang sekarang menjelma menjadi Kota Sanggau (Lontaan, 1975:173).
Menurut laporan Basillius dalam surat kabar Pontianak Pos edisi 28 september 2004 yang terangkai dalam tulisan berseri dengan judul "Melihat Perkembangan sanggau dari Masa ke Masa", disebutkan bahwa Sultan Ayub Paku Negra (1823-1828) memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Sanggau ke Kampung Kantuk (Basilius, dalam Pontianak Pos, 28 september 2004). Sementara Lontaan (1975) menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Panembahan Mohammad Thahir II (1860-1876), telah dirumuskan batas-batas wilayah hukum antara Kesultanan Sanggau dengan Kesultanan Brunei. Namun, tanda batas yang teah dibuat tersebut kini belum dapat dilacak lagi (Lontaan, 1975:175).
Selain itu, meski bukan sebuah kerajaan yang besar, namun Kesultanan Sanggau juga memiliki beberapa wilayah pendudukan. Pada masing-masing dari daerah talkukan Kesultanan Sanggau tersebut ditempatkan seorang pejabat yang ditunjuk oleh Sultan Sanggau. Daerah-daerah yang disebutkan sebagai bagian dari wilayah pendudukan Kesultanan Sanggau tersebut di antaranya adalah Semerangakai, Balai Karangan, Tanjung Sekayam, dan sejumlah darah lainnya (Basillius, dalam Pontianak Pos, 28 September 2004).
Secara umum, wilayah Kerajaan/Kesultanan Sanggau tidak jauh berbeda dengan wilayah Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, pada masa sekarang. Hal tersebut terlihat ketika pembentukan Kabupaten Sanggau yang mengacu kepada wilayah Swapraja Sanggau, sementara Swapraja Sanggau merupakan kelanjutan dari Kerajaan/Kesultanan Sanggau dahulu. Kabupaten Sanggau merupakan salah satu daerah yang terletak ditengah-tengah dan berada di bagian utara Kalimantan Barat. Sebelah utara Sanggau berbatasan denagn Serawak (Malaysia), sebelah selatan dengan Kabupaten Ketapang, sebelah barat dengan Kabupaten Landak, dan sebelah timur dengan Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sekadau.


Original Repost from : www.melayuonline.com
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. sanggau - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger